Tulisan ini spesial untuk para reporter dan kontributor yang seringkali menyertakan video narasumber yang kredibel dan kompeten dengan perangkat seadanya (tak ada mic/clip on), agar terhindar dari video wawancara yang percuma dan malah gagal tayang.
1. Pastikan tidak ada suara yang lebih keras dari suara nara sumber di sekitar Anda.
2. Ajak narasumber ke tempat yang lebih hening. Jangan terus dipukulin.
3. Majukan atau undur waktu wawancara jika tahu akan atau sedang ada kebisingan. Tapi jangan sampai seminggu juga.
4. Minta narasumber untuk lebih keras dalam bicara. Volumenya, bukan intonasinya. Jangan malah jadi beranten kalian.
Beberapa suara mengganggu yang sering kali mengiringi wawancara video berita antara lain:
- Suara speaker.
- Obrolan orang lain di sekitar narasumber.
- Suara knalpot berisik motor lewat. Kalau motornya malah berhenti di dekat Anda, silakan sambit.
- Suara proses bangunan (paku bumi, las, pendadukan)
- Suara air terjun. Biasanya berita wisata. Niat keren mewawancara dekat air terjun, tapi karena keterbatasan perangkat, malah serasa mewawancara air terjun yang jawabannya gitu-gitu aja dan nggak bisa dimengerti.
Saya pernah mengedit wawancara pejabat yang direkam reporter ketika acara jalan sehat. Sayangnya rekaman wawancara berlangsung di dekat panggung dan pas ketika MC mengundi doorprize. Alhasil, rekaman itu jadi tidak jelas, tumpang tindih. Saya sendiri ketika mengedit jadi tidak fokus antara mendengar ucapan sang pejabat dengan mendengar ucapan MC, karena takut nomor saya keluar. Padahal saya nggak ikutan jalan sehat. Maklumlah, naluri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar