Minggu, 25 Oktober 2015

Cerpen: FOX Klub Motor Rahasia


“WAH, JOKI, NIH!” teriak salah seorang peserta ujian praktek ketika aku berhasil melewati setengah dari rintangan ujian praktek motor. Teriakan itu membuat para peserta lain tertawa. Itu tidak menggangguku sama sekali. Bagiku, saat itu, gelar itu adalah pujian. Maklum, sejak tadi, puluhan peserta ujian praktek banyak yang gagal. Bahkan hampir semuanya gagal. Hanya ada tiga orang yang berhasil, termasuk aku. Kebanyakan dari mereka yang gagal karena menyenggol kayu pembatas, sebagian lain melajukan motor ke arah yang tidak sesuai dengan arah panah, sebagian lagi karena tidak mengoper gigi pada saat yang tepat. Terus terang aku heran, kenapa banyak orang gagal dalam ujian praktek semudah ini?
Tapi keheranan itu belum seberapa dibanding ketika pembagian SIM, ternyata orang-orang yang gagal itu dipanggil juga namanya. Saat ujian praktek hampir semua gagal, namun ketika pembagian SIM hampir semua dapat.
“AWAN!” panggil polisi dari balik loket pengambilan dengan suara lembut namun keras karena speaker. Aku mendekat. Tanganku menyambut pemberian polisi itu. Aku mengangkat SIM C milikku hingga sejajar dengan mata. Ada rasa bangga, haru, sukacita. Kini aku telah mendapat izin dari negara untuk mengendarai motor. Resmi dan semestinya. Aku patut merayakan hal ini.
Aku masuk ke dalam minimarket di seberang polres. Mengambil sekaleng minuman kesukaan lalu keluar, duduk di bawah naungan tenda-payung. Tiga motor ber-cc besar baru saja parkir di sebelah tendaku. Tiga orang pengendaranya turun hampir beramaan. Ketiganya berjaket kulit berwarna gelap. Mereka membuka helm,  lalu duduk di tenda-payung sebelah tanpa masuk ke minimarket.
Satu orang dari mereka melihat ke arahku. Tatapannya kaku. Aku pura-pura tidak tahu kalau salah seorang lagi berbisik sambil melihat ke arahku. Naluri bertahan hidupku meruncing. Aku melihat ke sekitar. Aku tenang karena keadaan sekitar cukup ramai. Dan lagi, aku tidak membawa barang berharga apapun, terlebih lagi aku tidak membawa kendaraan. Jadi ketiga orang ini bukan ingin merampok. Tapi juga terlalu keras untuk sekadar bertanya alamat, pikirku.
Seorang yang berkacamaata hitam  mendekat ke arahku. Aku sudah bersiap mengambil jalur pelarian, jika kekacauan dimulai, aku tak akan melawan. Satu banding tiga, yang benar saja.
“Permisi.” suaranya sopan, tak sebanding dengan wajanya yang keras. Aku tersenyum kecil, jalan tengah menanggapi kesopanan dengan waspada. Ia duduk lalu membuka kacamatanya. Semakin terlihat bahwa ia sekitar lima tahun di atas usiaku yang baru saja boleh mendapatkan SIM. Dari jarak sedekat ini aku bisa melihat logo di bagian dada jaket kulitnya. Gambar rubah menganga menunjukan taring.
 “Awan,” ucapnya. Aku hampir menyangka kalau ia memiliki nama yang sama denganku. “Namaku Ega”, lanjutnya. Dia tahu namaku. dan ini membuatku semakin merasakan keanehan.
“Kami ingin mengajakmu bergabung.” katanya pelan. Aku mencoba menerka-nerka arah pembicaraannya. MLM? Dengan cara seperti ini?
“Klub motor kami bernama FOX.” sambungnya. “Kami ingin kamu bergabung.”
Aku tak bisa menanah diri untuk tidak tersenyum geli. Namun juga setengah khawatir akan menyinggung perasaan mereka. Aku menenggak dulu minuman kaleng kesukaan untuk kemudian menanggapi. “
“Aku bahkan tidak punya motor, Bang.” jawabku dengan senyum setipis mungkin. Aku tidak menganggap motor bebek ayahku sebagai motorku. “Dan, kenapa aku?” tambahku, “Dan kenapa dengan cara seperti ini?”
“Kami akan memberimu motor,”
Aku tersedak dan terbatuk mendengar jawaban pertama, memberikan isyarat tangan memohon maaf, kemudian mengusap mulut dengan lengan untuk menghapus sedikit air minum yang keluar.
“Karena kamu memenuhi syarat,” lanjutnya, “dan karena kami bergerak cepat, efektif, dan efisien.”. Orang bernama Ega di depanku benar-benar menjawab pertanyaanku sesuai urutan. Aku langsung percaya kalau cepat, efektif, dan efisien, setidaknya, bagian dari dirinya.
Aku melirik dulu ke arah dua orang yang lain. Tidak ada pertanda kalau mereka sedang bercanda. Sempat menyisir ke berbagai arah, mencari kamera tersembunyi, karena ini mungkin proses produksi sebuah program televisi. Tidak ada juga.
“Punya nomor rekening?”tanya Ega menatapku.
“Punya,” jawabku sambil merangkai logika waspada. Tidak masalah jika mereka harus tahu.
“Sebutkan, kami akan transfer sejumlah uang.” sahutnya. Aku diam sejenak melihat lebih detail raut muka Ega yang dingin. Kalau ini lelucon, toh lebih baik ini cepat berakhir. Aku ingin cepat mengendarai motor ayah untuk pertama kali setelah memiliki SIM.
 Ega menekan-nekan ponselnya ketika aku menyebutkan nama bank dan nomor rekeningku. “Berapa harga motor 250cc yang kamu ingkinkan?”
Honda CBR 250RR. Seperti motor dua orang dari mereka. Gagah dan mempesona Jangankan harga. Spesifikasinya pun aku ingat. Meski aku menganggp ini lelucon, tetap saja aku mesti mengehela nafas sebelum menyebutkan harganya. “60 juta.” ucapku pelan. Ega tidak memintaku mengulang ucapan. Pandangannya masih ke poselnya. Ia mengeluarkan gawai konfirmasi bank, menekan-nekan tombolnya, kemudian kembali menatapku. “Aku lebihkan 10 juta, kalau-kalau harganya naik. Silakan cek. Kami sangat kecewa sekali kalau ternyata uang itu tidak kamu belikan motor.”
Aku mengeluarkan poselku sambil tersenyum menggeleng. Bersiap masuk ke tahap puncak dari lelucon mereka. Halaman browser telah terbuka, aku mengetik situs bank, memasukan nama dan kata kunci akun. Informasi Saldo.
Seyum tipisku atas antisipasi dikerjai berhenti. Aku tertegun, Mereka benar-benar menggelembungkan saldo rekening bank milikku. Aku garuk-garuk kepala, salah tingkah. Meski kebahagiaan membuncah, aku tetap merasa resah. Pemberian semewah ini tentu dengan pamrih.
Dua teman Ega bangkit mendekat, ikut duduk bersama kami. Mereka sadar aku sudah tidak merasa terancam. Ega mengenalkan mereka padaku. Adit dan Rivay. Cepak dan rancung.
“Kalian bilang aku memenuhi syarat.” aku mulai merasa harus mencari tahu.  “Syarat apa?”
“Kamu berhasil mendapatkan SIM.” jawab Ega. “Murni.” tambahnya.
“Dan memiiki hasil ujian teori tertinggi.” tambah Adit. Aku menoleh ke arahnya dengan cepat setelah perkataannya.  “Dari mana kau tahu?” tanyaku. Adit menjawab dengan membuka sisi kanan jaketnya. Menunjukan lencana polisi yang tercantel di saku kemeja birunya. Aku mengangguk sedikit menganga. “Jadi kalian polisi.”
“Hanya Adit disini.” jawab Rivay. “FOX sangat beragam. Beragam usia. Beragam profesi.” Hening sejenak sejak jawaban Rivay. Mereka memberi waktu kepadaku untuk tahu dan paham.
“Tapi bukan hanya aku yang berhasil mendapatkan SIM dengan murni.” tanyaku penasaran.
“Tapi hanya kau yang datang tanpa mengendarai motor.” jawab Ega.
“Hari ini ada tiga orang murni yang berhasil.” jawab Adit sambil memberi isyarat kutip pada ketika berkata murni. “Sayangnya, hanya kamu yang tidak mengendarai motor sebelum benar-benar memiliki SIM.”
“Kami memang detail dalam perekrutan.” timbrung Rivay. “Itu karena kami memang mengerjakan hal-hal detail.” 
“Jadi ini pekerjaan?” tanyaku mendapat bahan. “Kalian pasti punya tujuan kan?”
Ega tersenyum dengan dua pertanyaanku. “Pekerjaan, pengabdian, bersenang-senang. Kita bisa menyebut banyak hal tentang FOX.” jawabnya. “Dan, ya, tentu kami punya tujuan.”
Aku menegakkan badanku. Bersiap mendengar hal yang aku tunggu-tunggu. Ega menjelaskan semuanya.
“Manusia hanya berada di tiga tempat sepanjang hidupnya. Di tempat yang kita sebut rumah. Di tempat mencari penghidupan. Dan di tempat yang berada diantara keduanya. Itulah jalanan. Itulah yang kita sebut perjalanan.”
“Sayangnya, keburukan dalam hidup paling sering terjadi di jalanan. Kejahatan dan kecelakaan. Jalan adalah tempat yang rawan, sebagaimana perjalanan adalah proses yang demikian.”
“Itulah kenapa banyak aturan dan rambu yang bertebaran.” Adit menyelipkan ucapan. Ega mengangguk lalu melanjutkan.
“Sayangnya, kita hidup bersama begitu banyak manusia yang meremehkan aturan. Banyak dari mereka tidak sadar bahwa mereka menjadi malaikat pencabut nyawa bagi nyawa orang lain dan nyawanya sendiri. Begitu banyak yang lalai dalam logika, etika, dan estetika, yang akhirnya membuat dirinya dan orang lain celaka.”
Hening sebentar.
“Untuk itulah kita ada.” tutup Rivay atas penjelasan Ega. “Secanggih apapun kendaraan, manusia juga memegang kendali. Karenanya, manusialah yang menjadi sasaran.”
Aku sudah sangat paham tujuan mulia mereka. Hanya saja, “Bagaimana caranya?” tanyaku tak sabar. Aku sudah mulai membayangkan aksi-aksi dark-justice super hero, tapi tentu itu terlalu liar untuk nyata.
“Caranya adalah dengan bergabung dengan FOX. Dan kami bukan hanya akan menjelaskan, tapi juga mengajakmu beraksi!” jawab Adit semangat.
“Jadi, apakah kamu mau bergabung dengan kami?” tanya Ega. “Atau kamu akan mentransfer balik uang barusan?” tambahnya dengan senyuman.
 Aku ikut tersenyum. “Bagaimana aku bisa menolak hal ini?” jawabku. “Ya, aku bergabung dengan FOX!”
Aku sudah memesan motor impian. Namun karena belum sampai, dalam aksi pertama, aku masih berboncengan. Ega mengajakku membuntuti seseorang. Sebuah aksi yang awalnya tidak aku mengerti. Kami sudah berpakaian lengkap. Jaket, helm, sarung tangan, dan sepatu. Aku melihat mata Ega menatap lurus ke pertigaan jalan. “Target kita akan keluar dari jalan itu satu jam lagi.” ujarnya sambil menunjuk.
“Kalau begitu, kenapa kita berangkat sejak pagi?” keluhku. Satu jam lagi itu pukul sebelas. Kami sudah berangkat dari markas sejak pukul sembilan dengan perjalanan hanya satu jam.
“Anggota FOX selalu membiasakan diri lebih cepat dari jadwal.” jawabnya. “ Itu membuat kita tetap menjadi manusia saat berkendara. Seseorang tak akan menyingkirkan batu bila terburu-buru.”
Jawaban yang mengena padaku karena pernah mengalaminya. 
Sebuah motor matic kuning keluar dari persimpangan, masuk ke jalan raya. “Itu dia!” sahut Ega dari balik helmnya. Ia langsung melaju mendekati motor itu namun tidak sampai menyusulnya. Aku bisa melihat bahwa pengendaranya seorang wanita, terlihat dari panjang rambut dan pilihan warna sarung tangannya, meskipun aku tak bisa melihat pantulan wajah dari kaca spionya.
Aku tak behenti menerka-nerka apa yang akan dilakukan Ega. Dan, “Kenapa tidak kita susul saja?” tanyaku setengah berteriak agar terdengar. Ia malah menggeleng, membuka kaca helm, lalu berkata, “Kalau kita susul, bagaimana kamu bisa melihat kesalahannya?”. Aku bingung dibuatnya. Aku melihat kelengkapan aksesoris motornya. Semua ada. Sampai pada jalanan yang cukup ramai, aku melihat wanita itu menambah kecepatannya, menyusul beberapa motor dan mobil tanpa menyalakan lampu sign. Beberapa motor yang ingin menyusulnya bakan hanpir menabraknya karena wanita itu bermanuver ke kanan ketika motor di belakangnya akan menyusul. Kesalahan itulah yang aku anggap menjadi pertimbangan Ega untuk menindak.
 Kami berhasil membuntuti wanita itu hingga ke dalam kampus. Ia seorang mahasiswi. Ega memarkir motor cukup dekat dengan motor wanita itu. Aku menunggu Ega untuk turun. Namun ternyata Ega malah menunggu wanita itu hilang dari pandangan, masuk ke gedung kampus. Saat itulah ia menyerahkan sepucuk surat terbungkus plastik kepadaku. “Selipkan ini di karet jok motornya.” pintanya. Aku sempat melongo tak mengerti, melihat ke sekitar, lalu menurut saja apa yang diperintahkannya. Aku melihat kesekitar, memastikan tak ada orang yang curiga dengan aksiku. Dan selesai!
“Apa isi,” Ega memberiku selembar kertas, membuat pertanyaanku terpotong.
 “Aku tahu kamu pasti penasaran dengan isi surat itu.” potong Ega. “Ini salinannya, dan  jangan sapai lecak, karena itu untuk target berikutnya dengan kesalahan yang sama.”
Aku membuka lipat surat itu, bersandar pada badan motor, lalu mulai membaca tanpa berucap.
Kepada saudariku yang cantik.
Kecantikanmu bisa membunuhmu dan orang lain. Kaca spion pada motor adalah  untuk melihat bagian samping-belakang motormu, bukan untuk melihat pantulan wajahmu. Tahanlah dirimu untuk terlalu sering lihat wajah sendiri saat berkendara. Karena ketika kamu tak bisa melihat ke samping-belakang motormu, kamu akan lengah, dan menganggap tidak ada ancaman. Padahal, kamu bisa membuat dirmu dan orang lain celaka. Jangan menunggu sampai itu terjadi untuk menyadari sebuah fungsi.
                                                                                                                        Dengan hormat,
                                                                                                                                    FOX.
Sebelum selesasi membaca surat itu, aku sadar Ega berjalan mendekati motor matic kuning wanita tadi. Ia memegang kaca spionnya lalu menggerakannya bagian kacanya lebih keluar. Sekarang aku mengerti, wanita itu terlihat ugal-ugalan dan merepotkan orang lain karena ada satu fungi yang terabaikan. Pantas saja aku tidak melihat pantulan wajanya, karena ia memposisikan agar pantulan wajahnya yang terlihat oleh dirinya sendiri. Karena jika kaca spion seusuai fungsi, justru sebaliknya, orang di belakang akan bisa melihat pantulan wajahnya, sedangkan pemilik wajah melihat pantulan keadaan samping-belakang. Aku semakain mengakuji bahwa FOX memperhatikan hal-hal detail.
Siang itu kami tak berhenti membuntuti. Aku masih harus menjadi pengantar surat bagi seorang pria bermotor bebek dengan knalpot racing yang suaranya merobek telinga. Tak lupa aku membaca salinan suratnya.   
Kepada saudaraku yang gagah.
Sebagaimana terjemahan kata racing yang artinya balap, maka knalpot racing adalah knalpot balap. Maka hindari penggunaannya jika kamu tidak sedang balap menggunakan motor balap si sirkuit balap. Gagahlah dengan prestasimu, bukan dengan suara knalpotmu yang menjadi polusi suara.
                                                                                                            Dengan hormat,
                                                                                                                        FOX.
Aksi bersama Rivay ternyata berkaitan dengan profesinya. Aksi fotografi di sekitar jalan baru sebuah perumahan umum, dengan objek-objek para pengendara motor belia. Kami sampai sejak siang mesi Rivay baru mulai memotret sore hari, ketika jalan baru itu ramai oleh motor yang lalu-lalang, tentu agar kami tetap menjadi manusia di perjalanan.   
Rivay memberiku kesempatan memotret beberapa moment dan objek yang sama. Kami memilah-milah hasil jepretan di markas rahasia kami, mencetaknya, dan mengirimkan foto-foto ke alamat para orang tua yang sudah terpantau dan terdata. Tentu bersama sepucuk surat cinta.
Kepada para orang tua kami yang peduli pada anak-anaknya.
Motor matic bukanlah mainan, sebagaimana motor manual pun bukan. Anak-anak kita pasti bisa menunggu jika kita memberi pengertian. Lihatlah bagaimana mereka bermanuver. Lihatlah bagaimana mereka berboncengan. Lihatlah bagaimana mereka menjadikan motor sebagai bahan adu kecepatan. Jika kita mengecam hal seperti itu dilakaukan oleh orang dewasa, terlebih lagi jika dilakukan anak-anak, bukan? Jangan menunggu hal buruk terjadi pada anak-anak Anda, barulah sadar bahwa hal tertentu membutuhkan waktu untuk menunggu.
                                                                                                            Dengan hormat,
                                                                                                                        FOX.
 Dan aksi Adit lah yang paling membuatku penasaran. Apa yang akan dilakukan seorang polisi lalu lintas dengan klub motor rahasianya? Siapa targetnya? Apa pelanggarannya? Hingga aku berkesempatan untuk ikut dalam aksinya malam itu. Aksi yang membuatku tahu kalau FOX bukan hanya mengirim foto dan surat cinta pada targer-targetnya.
Aku sudah menerka Adit tidak akan menggunakan seragamnya malam itu. Kami berboncengan, masuk ke dalam parkiran sebuah mall. Entah apa yang Adit katakan kepada petugas parkir. Yang pasti itu membuat kami bebas melakukan eksekusi pada sebuah motor yang sejak tadi kami buntuti. Aksi membuntuti yang sering membuat mata kami silau, sekaligus membuatku tahu kenapa Adit menjadikannya sebagai target.
Dengan santai Adit menarik mundur motor bebek itu meski sedang ditopang standar ganda, hingga menjorok dari motor-motor lain. Ia mencopot penutup lampu rem yang berwarna putih menggunakan obeng. Tutup lampu rem yang membuat kami silau hampir sepanjang jalan tadi, terutama ketika pengendara motor ini melakukan pengereman. Tak hanya melepas, Adit juga memasang  tutup lampu rem serupa dengan warna yang semestinya. Merah. Adit memasang tutup lampu itu dan menyelipkan tutup lampu putih sebelumnya pada pegangan jok belakang. Ia mengeluarkan sepucuk surat terbungkus pelastik.
“Boleh aku membacanya dulu?” tanyaku, karena tak yakin yang satu ini ada salinannya. Adit mengangguk mengizinkan.
Kepada saudaraku yang menyukai keindahan.
Kami mengganti tutup lampu rem Anda. Dari sisi Logika, itu salah, karena  warna merah adalah bahasa dunia  untuk pengurangan kecepatan. Dari sisi Etika, itu tak baik, karena membuat penglihatan pengendara lain terganggu. Dari sisi Estetika pun tak indah. Karena sekalipun Anda menganggap warna putih lebih indah dari warna merah, Anda tak bisa melihatnya ketika lampu itu menyala. Alasan apalagi yang bisa kamu gunakan untuk merubah warna itu, jika ketiga unsur itu tak memberimu satu pun ruang?
                                                                                                            Dengan homat,
                                                                                                                        FOX.
FOX. Rubah. Klub motor yang merubahku lebih dulu sebelum aku merubah orang lain. Mereka membuatku sadar bahwa selamat berkendara bukan hanya tentang diri sendiri, tapi jugaorang lain. Membuatku sadar bahwa keselamatan di jalan bukan hanya tentang lengkap dan taat, tapi juga waktu yang luang. Waktu luang yang membuat kita tetap menjadi manusia. Bukan pemburu yang terburu-buru.
Satu pertanyaan mengusikku saat aksi Adit baru saja selesai. “Kenapa kita meninggalkan tutup lampu putihnya?” tanyaku pada Adit.
“Agar itu menjadi pilihan kedewasaan.” jawabnya singkat. Aku tak puas dengan keputusan itu. Karenanya aku kembali bertanya. “Bagimana jika ia kembali menggunakan tutup lampu yang berwarna putih?” tanyaku.
Tak langsung menjawab, Adit malah tersenyum.  “Aku ini polisi lalu lintas. Ingat?”. Jawaban itu membuatku ikut tersenyum, tapi, sekaligus mendapat bahan pertanyaan baru.  “Kenapa kita tidak melakukan ini terang-terangan saja? Kenapa kita menjadikan aksi ini rahasia?”
Adit melihatku dengan senyum kecil yang tersisa. “Kami percaya nasihat diam-diam lebih efektif, ketimbang nasihat terang-terangan, terutama jika dilakukan petugas berseragam.”, jawabnya. “Lagi pula tidak semua aksi kita rahasia.”
Beberapa hari kemudian aku paham,  tidak semua hal  di klub motor kami adalah rahasia. Aksi kebaikan tentu harus disebar agar menular. Itu yang mebuat tiap anggota selalu menyebar dokumentasi aksi FOX dengan cara masing-masing. Rivay seringkali mempublikasi foto-foto aksi kami melalui blog fotografinya. Kami juga membagikan stiker atau selebaran propaganda dalam acara-acara otomotif. Termasuk juga menuliskan pesan-pesan keselamatan pada sebuah cerita, kemudian mengikutsertakannya ke dalam sebuah lomba.

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen ‘Tertib, Aman, dan Selamat Bersepeda Motor di Jalan.’ #SafetyFirst Diselenggarakan oleh Yayasan Astra-Hoda Motor dan Nulisbuku.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar